Cerita Sukses Desa Bugisan: Majukan Desa Lewat Wisata, Mampu Gerakkan Ekonomi Warga

Senyum bahagia terpancar di raut wajah Harmani saat melihat deretan kain ecoprint di atas meja. Sementara di sampingnya, tertata rapi sejumlah baju, kaus, hingga outer yang digantung di sebuah rak. Adapula topi, sandal, dompet, hingga tas. Semuanya menggunakan bahan yang sama: kain ecoprint .

Di antara produk tersebut, ada beberapa hasil tangan Harmani. Hampir dua tahun Harmani menekuni usaha kain ecoprint di bawah label BugisArt yang merupakan wadah bagi pelaku UMKM di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Apalagi Desa Bugisan telah dinobatkan sebagai satu di antara desa wisata di Jawa Tengah.

Sehingga kain ecoprint dan produk kreasi buatan Harmani kerap menjadi suvenir bagi para wisatawan. "Ya Alhamdulillah , bisa dapat 30 40 persen (keuntungan, red) dari harga jual," ujarnya, Jumat (25/11/2022). Sebelumnya, tak pernah terpikir di benak Harmani bisa terjun di dunia kain ecoprint.

Semula, wanita berusia 57 tahun itu memiliki usaha peternakan ayam joper. Sayangnya, usaha tersebut gulung tikar dihantam pandemi. "Modal pun habis," ujar dia. Tak ingin terus terpuruk, Harmani lantas mengikuti pelatihan pembuatan kain ecoprint di Desa Bugisan.

Perlahan lahan, Harmani bisa kembali bangkit dan ikut ketiban berkah pengembangan wisata di Desa Bugisan. Selain Harmani, adapula Eni Marjini. Sebelum menekuni usaha kain ecoprint , Eni sibuk mengurus keluarga kecilnya dan aktif sebagai kader Posyandu. Hingga akhirnya, ia mengikuti pelatihan pembuatan kain ecoprint yang digelar pihak desa.

Eni mengaku sempat ada keraguan di dalam benaknya terhadap usaha kain ecoprint. "Selain butuh waktu yang lama dan kemauan keras dalam proses pembuatan, juga mau dijual ke mana produk ini?" katanya. Keraguan itu pun perlahan sirna seiring situasi pandemi yang mulai membaik.

Wisatawan kembali datang ke Desa Bugisan dan memborong kreasi kain ecoprint sebagai buah tangan. "Setelah itu mulai ikut pameran, bazar, terus saat ada tamu atau wisatawan yang datang, kami gelar lapak sebagai bagian promosi dan penjualan, jadi ya sangat terbantu," tutur Eni. Kepercayaan diri Eni, Harmani, dan pelaku usaha kain ecoprint lainnya di Desa Bugisan semakin meningkat setelah mendapat pesanan dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno.

Saat itu, Sandiaga Uno memesan 50 outer berbahan kain ecoprint untuk dipajang di Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Bahkan saat mengikuti pameran di Kemenparekraf, sejumlah produk ecoprint buatan warga Desa Bugisan, ludes diborong pengunjung. Laris manisnya produk ecoprint Desa Bugisan tak terlepas dari pengembangan wisata di desa tersebut.

Di desa inilah, bersemayam banyak peninggalan purbakala, satu di antaranya Candi Plaosan. Kemegahan Candi Plaosan menjadi daya tarik wisatawan domestik dan mancanegara. Melirik potensi tersebut, pihak desa mulai merintis wisata berbasis kearifan lokal dengan nama Kampung Budaya Candi Plaosan.

Alhasil, pada 2016, Desa Bugisan ditetapkan sebagai desa wisata. "Pengembangan desa wisata di Bugisan juga sejalan dengan visi misi kepala desa yang ingin memajukan dan menyejahterakan masyarakat," ungkap Ketua Pokdarwis Desa Bugisan, Rudi Riono. Mulai saat itu, pemerintah desa bersama warga bergotong royong menggali potensi yang ada di Desa Bugisan.

Bahkan setiap dukuh memiliki dan menampilkan potensi yang berbeda beda. Mulai dari potensi seni seperti karawitan, jathilan atau kuda lumping, gejog lesung, hingga tarian. "Juga ada pembuatan bakpia, kain ecoprint , kuliner tradisional, hingga topeng," kata Rudi. Bersamaan dengan pengembangan tersebut, Desa Bugisan juga membangun sejumlah obyek wisata unggulan.

Di antaranya taman lampion dan Paseban Candi Kembar yang berada di timur Candi Plaosan. Paseban Candi Kembar adalah tempat wisata yang menggabungkan kafe berkonsep semi modern dan saung. Selain menjadi tempat wisata kuliner, Paseban Candi Kembar kerap dipakai untuk sejumlah acara.

Masih di area Paseban, berdiri sebuah joglo yang dibangun dari bantuan keuangan (bankeu) Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar). "Tahun 2019, kami mendapat bantuan dari Pemprov Jateng sebesar Rp 100 juta yang digunakan untuk membangun joglo dan perbaikan sarana prasarana di Paseban." "Bangunan ini kami fungsikan untuk menyambut tamu, latihan menari, atau pertemuan Pokdarwis," ungkap Rudi.

Selain obyek wisata, Desa Bugisan juga menggelar event budaya bertajuk Festival Candi Kembar yang rutin digelar setiap tahun, meski sempat terhenti akibat pandemi. Dalam pengembangannya, Desa Bugisan menawarkan sejumlah paket kepada wisawatan. Tujuannya agar wisatawan memiliki pengalaman lebih saat mengunjungi Desa Bugisan.

"Jadi tidak hanya melihat candi, tapi juga ada pengalaman berwisata lain yang dirasakan," kata pria kelahiran Jakarta, 21 Januari 1992 ini. Rinciannya, sambung Rudi, ada wisata budaya yang menawarkan kegiatan belajar karawitan dan membuat masakan tradisional. Adapula paket outing class seperti belajar membuat kain ecoprint, menanam padi, hingga melukis topeng.

Rencananya pihak desa juga akan mengembangkan wisata edukasi Honocoroko dengan harapan bisa menyosialisasikan sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap aksara Jawa. "Kami juga memiliki paket edukasi peduli sampah. Jadi kami mengajak wisatawan untuk melihat pengelolaan sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce, dan Recycle (TPS3R)," ujar Rudi. Paket wisata ini tak terlepas dari kesuksesan Desa Bugisan dalam mengelola sampah rumah tangga dan sampah dari kegiatan wisata.

Atas keberhasilan ini, Desa Bugisan mendapat sejumlah bantuan untuk pengembangan sarana dan prasarana TPS3R Rukun Karya Santosa dari Dinas Lingkungan Hidup. Puncaknya, Desa Bugisan meraih apresiasi desa mandiri sampah dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dalam puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia sekaligus Kongres Sampah II di Paseban Candi Kembar, Prambanan, Klaten, Sabtu (25/6/2022).

Tak berhenti sampai di sini, keberhasilan Desa Bugisan mengembangkan desa wisata juga berbuah manis. Sejumlah penghargaan diraih oleh desa yang dipimpin Heru Nugroho ini, yaitu menjadi juara 1 Desa Wisata dan Juara 1 Pokdarwis se Kabupaten Klaten pada 2019. Prestasi lain yang pernah diukir adalah juara ketiga dalam ajang Gelar Desa Wisata Jawa Tengah (Jateng) 2021 kategori Pengelolaan Desa Wisata.

Puncaknya, Desa Bugisan masuk dalam 50 Desa Wisata Terbaik dalam pada ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022. Bersaing dengan 3.419 desa wisata seluruh Indonesia, Desa Bugisan meraih juara harapan II kategori Digital Kreatif. Rudi menerangkan, pengembangan desa wisata di Bugisan secara tidak langsung ikut menggerakkan perekonomian warga.

Misalnya dengan munculnya komunitas andong, bendi, dan gerobak sapi yang bisa dimanfaatkan wisatawan untuk berkeliling kompleks Candi Plaosan. Berkembang pula usaha penyewaan skuter dan sepeda ontel bagi para turis yang ingin menjajal kegiatan berbeda. "Jadi konsepnya, wisatawan dapat menyewa sepeda ontel untuk berkeliling area candi dengan memakai baju lurik," kata dia.

Dampak lainnya, adanya kegiatan car free day (CFD) yang digelar di jalan utama Desa Bugisan setiap hari Minggu pagi. Rudi mengatakan, kondisi saat CFD digelar pada 2018 masih sepi. Namun lambat laun kegiatan ini berkembang dan selalu ramai pengunjung. Bahkan perputaran uang dalam kegiatan CFD bisa mencapai ratusan juta dalam sehari.

Menjamurnya restoran, kafe, hingga penginapan juga tak lepas dari kesuksesan pengelolaan desa wisata Bugisan. Menurut Rudi, ada sekira 300 pelaku wisata, termasuk para pelaku UMKM yang ikut bergotong royong memajukan wisata di Desa Bugisan. Terkait tumbuhnya usaha kecil dan menengah, Pembina UMKM Desa Bugisan, Hastin Nuryani mengatakan tak lepas dari dukungan pihak desa.

Saat itu, desa ingin mengembangkan sesuatu yang khas untuk dijadikan oleh oleh. "Karena kan Bugisan sudah jadi desa wisata, tentu harus ada suvenir atau oleh oleh yang bisa dibawa wisatawan," kata Hastin. Berawal dari keinginan tersebut, pihak desa bekerjasama dengan ibu ibu PKK dan para pelaku usaha rumahan untuk bergabung dalam wadah UMKM yang lebih besar.

Bahkan masyarakat yang terdampak pandemi juga ikut dirangkul. Ada dua jenis usaha yang kini bernaung di bawah UMKM Desa Bugisan, yaitu kuliner dan kriya. Untuk kuliner, Desa Bugisan memiliki oleh oleh sirup belimbing wuluh, manggleng atau keripik singkong, getuk, hingga aneka olahan buah pepaya yang tumbuh subur di Desa Bugisan.

Hastin mengatakan, para pelaku usaha kuliner di Desa Bugisan berkumpul dalam satu wadah yaitu Bugis Manis. Kabar gembiranya, semua produk makanan di bawah Bugis Manis sudah mendapat sertifikat PIRT atau layak dijual. Sementara untuk UMKM kriya, lanjut Hastin, ada sejumlah produk yang dibuat.

Mulai dari topeng Bugisan, olahan kayu untuk terapi kesehatan, suvenir miniatur candi, ukiran batu putih, wayang, hingga kain ecoprint. "Untuk pelaku UMKM kriya, kami kumpulkan dalam satu wadah yaitu BugisArt," ujar Hastin yang ikut terjun dalam usaha ecoprint. Hastin juga mengatakan, para pelaku UMKM Desa Bugisan boleh bangga sebab produk mereka tak hanya dinikmati wisatawan domestik.

Namun juga wisatawan luar negeri seperti India hingga Pakistan. "Karena setiap ada wisatawan yang berkunjung, kami selalu buka lapak, memajang semua produk UMKM Desa Bugisan," ucapnya. Baik Hastin maupun Rudi berharap, pengembangan desa wisata Bugisan mampu memberikan banyak manfaat bagi warga.

"Salah satunya bisa ikut membantu menciptakan lapangan kerja." "Bisa juga menjadi alternatif atau pekerjaan sampingan di tengah mayoritas masyarakat yang berprofesi sebagai petani, buruh pabrik, dan buruh bangunan," kata Rudi. Pengembangan Desa Bugisan dan desa desa lain di Jawa Tengah sebagai desa wisata tak lepas dari peran serta dukungan Gubernur Ganjar Pranowo dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng.

Melalui Disporapar, Pemprov Jateng telah menganggarkan bankeu untuk pengembangan desa wisata sejak 2020. "Tahun ini, dana yang digelontorkan sebanyak Rp 18,5 miliar untuk dibagikan kepada 100 desa," tutur Sub Koordinator Pengembangan Daya Tarik Wisata Disporapar Jateng, Riyadi Kurniawan. Kemudian pada 2021, jumlah bankeu yang disalurkan bertambah menjadi Rp 32 miliar untuk 260 desa.

Pada 2022, pemprov memberikan bantuan sebesar Rp 18,5 miliar untuk disalurkan kepada 130 desa. "Rencananya, bankeu pengembangan desa akan kembali dianggarkan pada 2023 dengan total Rp 18,5 miliar untuk 140 desa," ujar Riyadi. Adapun nominal bantuan yang diberikan kepada setiap berbeda beda, tergantung kategori desa wisata.

Untuk desa wisata rintisan, beber Riyadi, akan mendapatkan bantuan sebesar Rp 100 juta. Sementara untuk desa wisata berkembang dan maju, masing masing bisa memperoleh bantuan sebesar Rp 100 juta atau Rp 500 juta serta Rp 100 juta, Rp 500, hingga Rp 1 miliar. Bantuan ini, lanjut Riyadi, bisa didapatkan oleh setiap desa wisata sepanjang alokasi anggaran serta analis kelayakan melalui proposal yang dikirim melalui dinas.

Adapun kriteria desa wisata penerima bankeu adalah memiliki Surat Keputusan (SK) penetapan desa wisata oleh Bupati. "Kemudian mengajukan proposal kepada Gubernur," kata Riyadi. Di sisi lain, sebagai regulator, dinas juga telah menetapkan dua aturan untuk mengatur desa wisata.

Yaitu Perda Nomor 2 Tahun 2019 tentang Pemberdayaan Desa Wisata di Provinsi Jawa Tengah dan Pergub Nomor 53 Tahun 20219 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perda Nomor 2 Tahun 2019 Tentang Pemberdayaan Desa Wisata di Provinsi Jawa Tengah. "Sementara secara internal, kami rutin menggelar pembinaan dan pelatihan sesuai kebutuhan desa wisata." "Seperti tata kelola desa wisata, pelatihan usaha wisata, pelatihan pemandu eco wisata, pelatihan kewirausahaan, dan lainnya," kata Riyadi.

Riyadi berharap pengembangan desa wisata di Jawa Tengah bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat di desa melalui sektor pariwisata. "Masyarakat bisa memanfaatkan potensi desa dan kami bantu melalui stimulan sehingga mengurangi beban masyarakat dan sebagai modal pembangunan desa," ujarnya. Dengan demikian, lanjut Riyadi, masyarakat desa tidak perlu bekerja di kota.

Mereka bisa bertahan di desa dengan mengembangkan potensi desa wisata. Riyadi menekankan adanya desa wisata tidak lantas mencabut mata pencaharian masyarakat di desa tersebut, tapi memberikan nilai tambah. "Biarkan petani menjadi petani, peternak menjadi peternak, tetapi gunakan potensi pertanian dan peternakan dengan nilai tambah di sektor pariwisata," pungkas Riyadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *